Kamis, 16 Agustus 2012

Kisah Tragis Gadis Muda

Angin yang begitu kencang menerpa seluruh tubuh pejuang 33 tiap harinya. Tetap pada sebuah perjalanan panjang mengitari penduduk Longos. Lauren, Rusydi, Iswati dan Maftuuh menelusuri jalan panjang menuju tempat bidan di desa Longos. Satu-satunya bidan di desa Longos. Mereka bertiga memang ditugaskan untuk meneliti tentang kesehatan masyarakat Longos.
    Sesampai di tempat bidan tersebut, empat pejuang ini merasa kaget dengan sambutan hangat dari bidan satu ini. Bidan desa Longos masih terbilang sangat muda, dan cantik. Setiap kalimat yang terucap di bibir bidan ini bagaikan untaian nada-nada indah. Saat wawancara pun, kelembutannya membuat empat pejuang betah untuk berlama-lama berbincang dengan bidan ini.
“Desa Longos termasuk desa dengan jumlah penduduk yang cukup besar. Pada tahun 2011 tercacat jumlah penduduk sebanyak 4.972 orang dengan jumlah laki-laki 2.371 orang dan perempuan 2.601 orang. Terdapat Pasangan Usia Subur (PUS) dengan jumlah  864 pasang. Dalam dua tahun terakhir, rata-rata kelahiran bayi berjumlah 65 kelahiran dan tidak terdapat kematian bayi.” Jelas mbak bidan ini disertai dengan senyum manisnya.
Meskipun di daerah pedesaan, penduduk Longos sudah mengenal KB melalui sosialisasi ke masing-masing rumah dari BKKBN Kabupaten Sumenep. Tercatat jumlah wanita yang menjadi akseptor KB selama 2 tahun terakhir sebanyak 265 orang. Dari bidan yang bertugas di desa Longos diperoleh informasi bahwa jenis alat KB yang banyak digunakan adalah suntik KB, baik yang jangka waktunya satu bulan maupun tiga bulan. Selain menjadi akseptor KB, sebagian wanita mengkonsumsi jamu tradisional untuk mengontrol  kehamilan. Jamu tersebut terbuat dari ramuan sirih, kunci, pinang muda, manjakani, akar delima putih dan air kapur.
Selesai berbincang, ada seorang laki-laki datang dengan setengah terengah-engah dia meminta tolong bu bidan untuk datang ke rumahnya. Ternyata dia adalah calon bapak, tidak terlihat dia adalah seorang laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Perangainya yang masih muda itu mungkin masih seumuran anak SMA.
Empat pejuang pun mengikuti bidan untuk melaksanakan tugasnya. Tak disangka, gadis kecil ini hendak melahirkan. Jika dilihat dia mungkin masih seusia anak SMP. Iswati yang saat itu ada di lokasi miris ngeri melihat betapa kesakitannya wanita ketika akan melahirkan.
 “Tarik nafas bu…”, kata dukun beranak yang sejak dari tadi ada di samping calon ibu itu.
“Ini harus operasi bu.”, kata sang Bidan. Namun keluarga sang calon ibu tidak mempercayai ucapan Bidan dan tetap bersikukuh untuk menggunakan jasa dukun beranak, karena keluarga meyakini dukun tersebut sanggup mengatasi proses persalinan.
Bidan itu mencoba membujuk lagi keluarga tersebut untuk segera membawa sang ibu ke rumah sakit. Akan tetapi pihak keluarga masih tetap ee
Sampai di rumah sakit, keadaan semakin memburuk. Sang ibu sudah tidak tertolong. Namun bayinya masih bisa diselamatkan melalui operasi caessar. Pihak keluarga tidak terima atas kematian sang ibu. Dan menyalahkan pihak rumah sakit dan sang Bidan pun dipojokkan.
Begitulah kebanyakan masyarakat di desa Longos ini khususnya mereka yang masih memegang tradisi turun temurun di mana setiap melakukan persalinan masih mengandalkan dukun beranak. Sehingga keberadaan bidan desa yang seharusnya sebagai penolong utama dalam proses persalinan menjadi pilihan terakhir. Seorang bidan desa harus benar-benar memiliki jiwa penyabar dan berjiwa besar dalam menghadapi warga di desa ini.
Sepulang dari rumah sakit, empat pejuang mengantarkan bidan muda ini sampai ke rumahnya. Sungguh tidak tega jika harus melihat bidan ini setiap hari bekerja tanpa kenal lelah dan tanpa kenal waktu. Tidak peduli tengah malam sekali pun bidan muda ini akan memberikan segenap waktu, usaha dan tenaganya demi kesehatan pasien-pasiennya. Tiga pejuang merasa mendapatkan sebuah pengalaman paling berharga saat mendampingi bidan dalam proses persalinan tadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar