Kamis, 16 Agustus 2012

Asta/Makam

Sungguh istimewa memang, semua dari setiap individu kelempok 33 KKN Universitas Trunojoyo Madura ini mempunyai jiwa petualang. Semua celah yang patut di tulis di catatan mereka, mereka telusuri dan menggali banyak informasi dari masyarakat sekitar. Ada yang sangat berantusias sekali untuk mengunjungi wisata religi yang ada di Desa Longos ini.
Desa Longos mempunyai banyak tempat yang menurut masyarakat sekitar dikeramatkan. Tempat-tempat diantaranya adalah asta/makam. Makam yang dikeramatkan di desa ini ada 3 makam. Mereka semua adalah makam para auliya yang asli dari Desa Longos dan ada pula yang seorang pendatang. Karena para auliya ini punya karomah sehingga sampai sekarang pun tempat-tempat ini masih banyak peminat ketika ada hajat yang diinginkan.
Waktu telah hampir sore bertepatan dengan besoknya hari jumat. Alfian yang sudah terbiasa di kehidupan pondok pesantrennya tak sabar untuk memanjatkan tawasul ke arwah para keluarga yang telah mendahuluinya. Berkunjung ke makam para keluarganya yang telah meninggal adalah kebiasaannya.
Tapi saat ini kebiasaan itu tidak di jalani, karena terbentur dengan serangkaian kegiatan KKN di Desa Longos. Tak banyak fikir lagi Alfian langsung beranjak mengambil air wudlu di kamar mandi dan ganti pakaian yang biasa ia kenakan di waktu sore, yaitu baju koko putih beserta sarung kuning emasnya.
“Ndut....Nduuut”, Alfian mengetuk pintu kamar cewek sebelah kamar mandi.
Alfian menawarkan ke Ana untuk berziarah ke makam yang di tuakan di sekitar desa longos ini. Tapi kebetulan Ana tidak bisa ikut ajakannya, karena Ana sedang mens. Muncul ide tuk mengajak putra Longos, Robba. Alfian langsung mengajaknya dan terdengar ajakan itu oleh Maftuuh. Hingga akhirnya kita bertiga yang berangkat kesana.
Asta/makam yang pertama kami kunjungi adalah makam hujan angin. Makam atau Pesarean(Jawa) ini konon cerita dari mulut ke mulut adalah makam seorang musafir dan seorang anak kecil, entah sikecil itu adalah cucunya atau tidak. Yang pasti di makam itu terdapat dua kuburan (Jawa).
 Asta Hujan Angin
Makam ini sangat unik. Disamping makam terdapat pohon jati yang sangat besar. Diameter lingkarnya ± 8 m. Kelihatannya umur dari pohon ini sudah ratusan tahun. Itu tampak dari tekstur besarnya. Makam ini adalah makam seseorang yang bernama Kiyai Khotib dan seorang anak kecil.
Menurut sumber dari beberapa masyarakat sekitar beliau adalah seorang musafir yang mencari ikan di pantai. Dan ketika pada suatu hari ada hujan dan angin. Beliau berdua mecari tempat untuk berteduh dan akhirnya berteduh di pohon jati. Saat itu pohonnya masih kecil sehingga tak mampu tuk melindungi mereka. Sehingga beliau wafat dan langsung dikuburkan di tempat itu juga.
Tanah yang ditempati ini adalah kepunyaan seseorang yang bernama Nyai Huddin dan beliau sekarang sudah wafat sehingga di wariskan ke seseoang yang bernama H.Ustman. sekarang beliau bertempat tinggal di desa sebelah, Desa Andulang. Dahulu sempat seseorang menebang pohon raksasa tapi tak berhasil. Karena ketika kapak mengkuliti satu persatu kulit pohon tersebut. Ada cairan yang keluar nampak seperti darah manusia yang masih hidup. Dan ketika malamnya Nyai Huddin di mimpikan dan intinya beliau disuruh mengobati pohon jati itu. Dengan menempelkan tanah di pohon tersebut.
Pernah di tawar juga untuk dibeli pohon jati ini, sekitar 250 juta oleh seseorang dari Bali. Tapi niat itu diurungkan, karena tak ada yang berani menebang pohon besar ini. Ada cerita juga ketia ada maksud jahat atau ada amalan/tirakat di sekitar asta hujan angin ini. Rintangan dan tantangannya adalah hujan dan angin.
Letak makam/ Asta Hujan angin ini di dusun Kotte, 100 m ke utara dari Balai desa Longos. Ketika musim kemarau panjang tiba dan sudah dijadwalkan akan ada hujan setelahnya, tapi tidak hujan juga. Para penduduk sekitar berduyun duyun ke Asta Hujan Angin ini untuk bertawasul dan berdoa. Dengan membawa makanan khas Longos, mereka saling memberi. Tujuannya tidak meminta hujan ke makam ini tapi agar permintaan yang awalnya di tujukan ke Allah Sang Maha Pencipta di Amiin i oleh Auliya’ ini.
***
Keesokan harinya setelah sholat jumat tak sabar untuk berwisata religi lagi ke salah satu asta/makam. Kali ini adalah makam yang bernama Asta Bujuk Grincang. Di tempat ini terdapat banyak makam dan yang istimewa yang dinamakan pujuk grincang adalah bertempat di dataran tinggi tepatnya di dusun Telentean. Jarak makam ini dari jalan raya sekitar 1500 meter. Makam ini termasuk makam yang satu-satunya berada di dataran tinggi.
Bujuk gerincang ini terdiri dari 4 makam. Makam ini merupakan makam yang terdiri dari satu keluarga. Konon katanya bujuk gerincang adalah salah satu penyiar agama islam. Sudah sejak zaman dahulu makam ini sudah ada, akan tetapi dengan banyaknya pengunjung yang berziarah dan memanjatkan ayat-ayat suci al-qur’an. Tidak hanya keempat makam ini yang ada di bujuk gerincang akan tetapi terdapat beberapa makam lai  yang berada di sebelahnya.
Keunikan yang terdapat dibujuk gerincang ini terdapat salah satu pohon yang berada di sebelah keempat makam tersebut. Berdasarkan letak dan posisi pohon ini seperti menanungi makam tersebut.  Makam ini tidak pernah sepi dengan pengunjung. Hampir setiap jam ada saja orang yang berziarah. Uniknya lagi disamping barat makam terdapat dataran yang tinggi hampir menyerupai puncak gunung. Dari puncak inilah peziarah dapat memanfaatkan ketinggiannysa untuk memandang kebesaran Allah yaitu melihat pulau dan beberapa daerah dari atas puncak ini. Dan di puncak inilah banyak terdapat acara seperti turun tanah, syukuran bersama keluarga dan beberapa kegiatan lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar