Kamis, 16 Agustus 2012

Tak Tau apa Judulnya

Jam menunjukkan pukul 14.30. Aku bergegas mengganti pakaianku. Tak lupa ku kenakan jaket hitam bertuliskan KKN UTM 2012. Keluar kamar menuju balai desa untuk mengambil kertas, pensil, kapur tulis serta daftar hadir. Ok semua peralatan sudah masuk di dalam tas kesayanganku. Tak lama kemudian Yoga keluar dari kamar.  Pukul 14.45 kita bergegas menuju Madrasah Mutasahidin Desa Longos. Kira-kira sepuluh menit perjalanan, kita pun tiba di Madrasah. “ Mana Yog pesertanya? ”, tanyaku pada Yoga. Dengan penuh harapan Yoga pun menjawab, “Mungkin ada di dalam ruangan”. Mesin motor dimatikan, satu per satu ruang kelas kita hampiri. Kita pun sadar bahwa tak ada satupun warga yang hadir pada sore itu. Duduk di emperan ruang kelas sambil berharap akan ada warga yang hadir. Lima belas menit berlalu, kita memutuskan meninggalkan Madrasah menuju rumah pak Kadus. “Pak Kadus ada?”, tanya Yoga pada istri Pak Kadus sesampainya di rumah Pak Kadus. Pak Kadus keluar. Belum sempat Yoga menjelaskan bahwa tak ada warga yang hadir, pak Kadus mengendarai motornya. Kita pun menyusul menuju Madrasah.
Sesampainya di Madrasah, Pak Kadus tahu tak satupun warganya hadir. Pak kadus kesana kemari mencari warganya. Tak lama berselang seorang wanita renta menghampiri Madrasah. Disusul dua perempuan yang usianya kira-kira 35 tahun. Biar terjalin keakraban, aku mencoba ngobrol dengan dua perempuan itu menggunakan bahasa Indonesia. Satu kalimat ku ucap, dua kalimat ku ucap eh dua perempuan itu hanya bengong.  Ouwhh ternyata dua perempuan itu tidak mengerti bahasa Indonesia. “Uh dah kayak alien ni aku, sampe-sampe dua perempuan ini nggak ngeri apa yang aku omongin”, kataku dalam hati.
Pak kadus kembali dari “pencariannya”. “Pokol empa’bhadeh onjengan, dadhina sek lalakek tak bisa rabu ka’dhinto”, kata Pak Kadus. Selain karena ada undangan, para ibu-ibu juga tidak bisa hadir karena sibuk menyiapkan buka puasa. Ok ok akhirnya mencari solusi bagaimana agar para warga bisa hadir dalam program ini tanpa menggaggu kesibukan mereka. Dengan persetujuan pak Kadus, jadwal kita ubah dari pukul 15.00 menjadi 10.00. Kembali ke Balai Desa. Hari pertama program Buta Aksara kita tutup dengan rasa kecewa.
Hari kedua pukul 10.00 sesuai jadwal baru. Tidak bersama Yoga seperti hari pertama, hari kedua aku bersama Dina bergegas menuju madrasah masih dengan semangat yang menggebu-gebu. Sampai di Madrasah, pemandangan masih sama seperti hari pertama. Tak satupun warga hadir. Kecewa lagi. Sambil berharap akan ada warga yang hadir, aku dan Dina mengunjungi rumah warga yang tak jauh dari madrasah, Disana kita “ngobrol” dengan beberapa warga. Dari obrolan itu kita tahu alasan mengapa masih tak ada warga yang hadir. Malu, sudah tua kok masih belajar baca tulis. Itulah alasan mereka. Kita berikan motivasi bahwa mereka tak perlu malu untuk belajar. Beberapa lama mengobrol dan tetap tak ada satupun warga yang hadir, kami memutuskan untuk berpamitan. Kembali ke posko tercinta, balai desa Longos, dengan harapan akan ada banyak warga yang datang dalam program Buta Aksara ini. Semoga….

Tua, muda, dan anak-anak

Setelah menjalankan sholat ashar, aku dan temanku, berangkat ke dusun paleggin untuk mengajarkan baca tulis. Di kantor tak terpakai, kami gunakan untuk melakukan kegiatan itu. Satu-dua orang datang dan kemudian rombongan orang-orangpun berdatangan. Hingga ruangan itupun penuh sesak oleh warga yang ingin belajar. Sampai-sampai ada beberapa warga yang harus berada di teras kantor, karena ruangan yang tak mencukupi.
Lebih dari 30 warga, dalam ruangan berukuran 4m x 4m. Bukanlah ukuran yang pas, untuk dapat maksimal memperoleh ilmu yang kami berikan. Juga dengan waktu yang hanya 90 menit tiap satu kali pertemuan membuat kegiatan pelatihan ini sedikit tidak maksimal. Begitu juga dengan jarak tempat pelatihan dengan balai desa, membuat kami sedikit membuang waktu.
 Antusias Warga dalam Pembelajaran
Satu persatu lembaran kertas dan alat tulis aku bagikan ke warga yang ada di ruangan itu. Namun apa yang aku bayangkan terjadi. Kertas dan alat tulis yang kami bawa tak mencukupi untuk seluruh peserta pelatihan baca dan tulis. Tak kehilangan akal, kamipun harus berkata, “nyo’on saporana, potlotna tak benya’ tak langkong mon bapak ibu gantian”.
Di ruangan itu, dari anak kecil hingga kakek-nenek ada disana. Belajar memang tak mengenal usia, dari bayi yang dalam kandungan hingga liang kubur, kita diharuskan terus mencari ilmu. Dengan adanya kegiatan ini kami harapkan agar warga yang tidak dapat membaca maupun menulis menjadi berkurang.
Ada seorang anak kecil yang menemani ibunya untuk belajar. Dia membantu ibunya untuk mengerti bagaiman cara menulis huruf yang benar dan cara membaca huruf itu. Kecil, pinter, dan lucu. Mungkin dibenaknya, dia ingin ibunya dapat membaca hasil rapornya disetiap semester. Dan ingin menjadikan ibunya dapat lebih mengerti caranya menulis. Mungkin biar dapat menuliskan surat ijin, jika dia sedang sakit.
Wah, ini mengurangi beban kami pikirku. Dan kami dapat serius mengajar ke warga yang lain dengan adanya anak kecil yang pintar ini.
Disudut lain ada seorang kakek dengan nafas yang ngos-ngosan dan penglihatan kabur. Sedang mendengarkan temanku yang memberikan arahan cara membaca abjad dan cara menuliskannya. Kukira kakek ini serius mendengarkan, tetapi ktika kudekati rupanya, si kakek sudah agak tuli, dan kalau ingin berbicara dengannya harus sedikit berteriak. Waduh,susah ini. Tangannya pun sudah bergetar ktika memegang pensil yang aku berikan. Mau nulis dan baca sudah merupakan hal menyulitkan baginya. Tapi aku coba untuk mengenalkan beberapa huruf saja.
Dan itu beberapa hal yang aku dapat ceritakan ktika hari pertama mengajarkanbaca tulis di dusun paleggin, desa longos. Mengesankan, tapi sedikit membuatku kewalahan. Apalagi ktika seluruh peserta tidak dapat menggunakan bahasa nasional.

Teringat Masa Kecilku

Bruummm.......pada siang itu tepatnya jam dua siang kukendarai sepeda motor honda supra 125 berboncengan dengan teman KKNku, dimana pada saat itu matahari sedang menunjukkan betapa sangat garangnya dia sehingga jaket hitam KKN yang ku kenakan tak sanggup untuk menahan gempuran radiasinya sehingga menusuk sampai ke kulitku, Ini mengingatkan masa kecilku ketika berangkat ke madrasah diniyah dulu  tetapi terdapat perbedaan medan perjalanan yang naik turun bagaikan ombak dan terkadang jalan berlubang yang memaksa shokbreaker bekerja lebih keras.
Sesampainya di tempat tujuan yaitu madrasah taufiqurrahman didusun talentean, sekali lagi aku teringat kembali kemasa kecilku karena bentuk bangunan  madrasah yang mirip dengan madrasah diniyahku dulu tetapi bangunannya agak tak terawat terlihat cat ditembok  yang telah terkelupas dan kelihatan agak kusam dan debu berserakan dilantai mungkin karena halaman sekolahnya berpasir dan  disana nampak beberapa perempuan paruhbaya dan bapak kadus yang mengarahkan pandanganya ke arah kita berdua layaknya para turis eropa yang melihat munculnya sunrise di pantai bintaro gak tau kapan hal itu akan terjadi, ku berharap beberapa tahun kedepan hal itu akan terjadi amin........, kita berduapun menghampiri mereka, kemudian temanku yang merupakan putra daerah didesa longos yang  kita tempati untuk KKN melemparkan beberapa kata kata bahasa madura yang pada intinya dia meminta maaf telah membuat mereka menunggu, sesegera pak kadus mengarahkan kami menuju kelas yang digunakan untuk kegiatan PBA (pengurangan penyandang buta aksara) dan mempercayakan kegiatan PBA ini pada kita berdua.
Setelah beberapa menit pak kadus meningggalkan kelas, temanku  pun membuka dengan mengucapkan salam demi kelancaran kegiatan kemudian dia melemparkan kata kata madura yang walaupun aku sudah mendiami pulau madura tepatnya di kabupaten bangkalan selama kurang lebih tiga tahun tapi aku gak tau apa yang dibicarakannya mungkin karena bahasa disini lebih halus daripada dibangkalan atau cara jawanya disini kebanyakan masyarakatnya menggunakan bahasa kromo inggil, makanya anak anak  sumenep dikampus dengan bangganya mengklaim sumenep merupakan solonya madura.
Sesegera mungkin kegiatan belajar pun dimulai aku pun mengeluarkan isi dalam perut tasku  yang berisi pensil,kertas folio,stip dan gak lupa slapper merupakan kosa kata baru yang kudapat hari ini di desa longos adalah sebutan masyarakat madura untuk alat unik dengan berbagai bentuk yang biasanya digunakan  anak TK yang berguna sebagai penajam pensil,  gak tau kata itu diadopsi dari bahasa apa atau mungkin diambil  dari sebuah merk alat raut pertama yang menjelajahi pulau madura seperti halnya odol untuk sebutan pasta gigi kebanyakan orang di desaku, alat alat itu kemudian dibagikan ke peserta PBA kemudian kuamati wajah mereka satu persatu tampak sumringah kayak bocah yang dikasih permen.
Tak lama kemudian temanku menggoreskan kapur untuk menulis  beberapa huruf alfabet putih dipapan tulis yang warnanya mulai memutih  mungkin karena sudah terlalu banyak goresan yang diarahkan kepadanya, dan meminta para peserta untuk menulisnya dikertas mereka masing masing,  kuarahkan lagi pandanganku pada mereka ada hal unik yang terjadi  mereka gak tau cara memegang pensil yang benar kebanyakan dari mereka  menggenggam pensil seperti menggenggam sebuah pisau walaupun cara menggenggam pensil mereka salah tetapi kebanyakan dari mereka sudah bisa meniru beberapa huruf yang ada dipapan.
Jarum pada jam yang tertempel ditembok kelas yang agak kusam sudah menunjukkan pukul setengah empat seolah olah dia mengatakan bahwa hari sudah sore temanku pun menutup kegiatan dengan meminta maaf kalau ada salah kata kemudian dilontarkan ucapan salam yang menandakan kegiatan sudah berakhir,kita pun keluar satu persatu dari mulut pintu kelas. Kunaiki lagi motor supra 125 berboncengan dengan temanku untuk bergegas pulang walaupun rasa capek mulai menghinggapi ditambah rasa dahaga yang terus menggoda tenggorokanku karena mulai dari tadi pagi belum masuk setetes air ke mulutku karena hari ini aku puasa ramadhan tapi semua itu telah terbayarkan karena aku sudah menyampaikan  ilmu yang kumiliki walau hanya beberapa huruf saja pada bulan yang dikatakan penuh berkah ini.

Adat Ketimuran

Desa Longos termasuk dalam Kecamatan Gapura, Kabupaten sumenep, Madura. Terdiri dari enam dusun; diantaranya  adalah Dusun Kotte, Buabu, Telentean, Polay, Longos, dan Palegin. Diantara dusun-dusun yang ada menurut saya yang menarik adalah dusun dimana saya dan rekan kerja saya dalam mengajar buta aksara yaitu dusun Buabu. Dusun Buabu adalah salah satu dari enam dusun yang ada di desa Longos, Kecamatan Gapura, Kecamatan Sumenep, Madura. Menurut saya dusun tersebut memiliki keunikan tersendiri dari dusun-dusun yang ada di desa Longos. Dusun tersebut memiliki keunikan dari masyarakatnya yang terkenal religius. Terbukti ketika saya dan rekan kerja saya mengajar disana dan bertemu dengan salah satu pengurus yayasan disana, beliau berfikir bahwa saya adalah istri dari rekan kerja saya tersebut padahal kami hanya sebatas rekan kerja pengabdi di KKN.
Sungguh aneh dan lucu, hal tersebut mungkin tidak akan terjadi ketika di tempat tinggal saya. Mungkin karena kultur tradisi dan budaya yang berbeda, jadi saya juga harus menyesuaikan diri di tempat KKN. Memang masyarakat Madura terkenal akan tradisi dan budayanya, berbeda dengan di Jawa atau pulau di luar Madura. Madura lebih menjunjung tinggi tata krama dan kesopanan, walaupun sebernya tidak semua dari masyarakatnya yang seperti itu. Tapi tetap Madura di bandingkan dengan masyarakat-masyarakat yang lain di luar Madura ada perbedaan yang mendasar.
Tidak bisa kita pungkiri kita hidup berdampingan dengan orang-orang yang mungkin tidak kita kenal, entah itu berbedaan bahasa, kultur maupun budayanya. Kita diciptakan saling mengisi dan melengkapi satu dengan yang lainnya. Itu pula yang harus saya lakukan di tempat KKN 2012. Saya harus bisa menyumbangkan ilmu yang selama ini saya dapat di perguruan tinggi. Saya harus bisa menerapkannya di masyarakat sekitar. Seperti halnya ketika saya harus mengajar lansia buta aksara di dusun Buabu, saya harus bisa bersosialisasi dan berkomunikasi dengan baik pada masyarakat tersebut. Walaupun pada awalnya ada perbedaan bahasa yang menjadi penghalang diantara komunikasi kami, namun itu menjadi tugas dan kewajiban saya sebagai seirang fasilitator. Bagi saya perbedaan komunikasi itu sangat mempengaruhi pola interaksi yang ada.
Halangan yang ada di tempat, harus bisa di lewati itu tujuan saya dalam program ini. Mungkin bagi rekan-rekan saya seperjuangan di KKN 2012 berdomisili di Madura, mungkin mereka tidak ada halangan yang berarti karena mereka sudah terbiasa dengan situasi tersebut. Berbeda dengan saya yang bukan asli dari Madura, pasti diantara kita ada mis komunikasi. Yang ada dalam benak saya ketika mengambil KKN di madura tidak lain dan bukan karena saya ingin lebih mengetahui perbedaan apa saja yang ada diantara kita. Mungkin bagi rekan KKN saya yang lain tantangan ini cukup berat, namun bagi saya hal ini adalah suatu tantangan yang harus saya pecahkan sendiri.
Perbedaan bukan berarti menghalangi langkah kita dalam mencapai perubahan yang lebih baik, namun semua itu adalah sebuah tantangan yang harus kita pecahkan sebagai seorang pengabdi dan peneliti. Karena saya berharap bisa jadi seorang sosiolog yang handal. Ketika saya harus beradaptasi dengan masyarakat baru di luar sana, ketika itu pula saya harus bisa menempatkan diri sebagai bagian dari mereka.

Adat Ketimuran

Desa Longos termasuk dalam Kecamatan Gapura, Kabupaten sumenep, Madura. Terdiri dari enam dusun; diantaranya  adalah Dusun Kotte, Buabu, Telentean, Polay, Longos, dan Palegin. Diantara dusun-dusun yang ada menurut saya yang menarik adalah dusun dimana saya dan rekan kerja saya dalam mengajar buta aksara yaitu dusun Buabu. Dusun Buabu adalah salah satu dari enam dusun yang ada di desa Longos, Kecamatan Gapura, Kecamatan Sumenep, Madura. Menurut saya dusun tersebut memiliki keunikan tersendiri dari dusun-dusun yang ada di desa Longos. Dusun tersebut memiliki keunikan dari masyarakatnya yang terkenal religius. Terbukti ketika saya dan rekan kerja saya mengajar disana dan bertemu dengan salah satu pengurus yayasan disana, beliau berfikir bahwa saya adalah istri dari rekan kerja saya tersebut padahal kami hanya sebatas rekan kerja pengabdi di KKN.
Sungguh aneh dan lucu, hal tersebut mungkin tidak akan terjadi ketika di tempat tinggal saya. Mungkin karena kultur tradisi dan budaya yang berbeda, jadi saya juga harus menyesuaikan diri di tempat KKN. Memang masyarakat Madura terkenal akan tradisi dan budayanya, berbeda dengan di Jawa atau pulau di luar Madura. Madura lebih menjunjung tinggi tata krama dan kesopanan, walaupun sebernya tidak semua dari masyarakatnya yang seperti itu. Tapi tetap Madura di bandingkan dengan masyarakat-masyarakat yang lain di luar Madura ada perbedaan yang mendasar.
Tidak bisa kita pungkiri kita hidup berdampingan dengan orang-orang yang mungkin tidak kita kenal, entah itu berbedaan bahasa, kultur maupun budayanya. Kita diciptakan saling mengisi dan melengkapi satu dengan yang lainnya. Itu pula yang harus saya lakukan di tempat KKN 2012. Saya harus bisa menyumbangkan ilmu yang selama ini saya dapat di perguruan tinggi. Saya harus bisa menerapkannya di masyarakat sekitar. Seperti halnya ketika saya harus mengajar lansia buta aksara di dusun Buabu, saya harus bisa bersosialisasi dan berkomunikasi dengan baik pada masyarakat tersebut. Walaupun pada awalnya ada perbedaan bahasa yang menjadi penghalang diantara komunikasi kami, namun itu menjadi tugas dan kewajiban saya sebagai seirang fasilitator. Bagi saya perbedaan komunikasi itu sangat mempengaruhi pola interaksi yang ada.
Halangan yang ada di tempat, harus bisa di lewati itu tujuan saya dalam program ini. Mungkin bagi rekan-rekan saya seperjuangan di KKN 2012 berdomisili di Madura, mungkin mereka tidak ada halangan yang berarti karena mereka sudah terbiasa dengan situasi tersebut. Berbeda dengan saya yang bukan asli dari Madura, pasti diantara kita ada mis komunikasi. Yang ada dalam benak saya ketika mengambil KKN di madura tidak lain dan bukan karena saya ingin lebih mengetahui perbedaan apa saja yang ada diantara kita. Mungkin bagi rekan KKN saya yang lain tantangan ini cukup berat, namun bagi saya hal ini adalah suatu tantangan yang harus saya pecahkan sendiri.
Perbedaan bukan berarti menghalangi langkah kita dalam mencapai perubahan yang lebih baik, namun semua itu adalah sebuah tantangan yang harus kita pecahkan sebagai seorang pengabdi dan peneliti. Karena saya berharap bisa jadi seorang sosiolog yang handal. Ketika saya harus beradaptasi dengan masyarakat baru di luar sana, ketika itu pula saya harus bisa menempatkan diri sebagai bagian dari mereka.

Se Emmot Ghi Mbah (Yang Ingat Ya Mbah) Oleh : Safitri

Pemberantasan buta aksara merupakan program dari KKN kelompok 33 UTM yang dilaksanakan di Desa Longos. Kali ini aku kebagian di dusun Kotte bersama rekan KKN ku yaitu Lauren CHS. Proses pembelanjaran yang ku gunakan berawal dari pengenalan huruf abjad dari A-Z. Ini merupakan suatu tantangan bagi ku, karena siswa yang ku ajarkan sudah tidak muda lagi bahkan sudah lanjut usia. Mulai mangajar tanggal 23 juli jam 15.00.
Oke sekarang ku akan menceritakan pengalaman saya pada saat mengajar. Awalnya tidak ada siswa yang dateng di Musholla Al-Irsyad dan akhirnya aku mintak tolong ke orang tua teman KKN yang kebetulan rumahnya dekat dengan tempat ku mengajar. Akhirnya aku mendapatkan siswa walaupun hanya sedikit siswanya. Ya gpp lah, bagi ku sudah beruntung mendapatkan siswa, dibandingkan di tempat teman ku yang hari pertama belum nendapatkan siswa. Alhamdulillah. Aku memperkenalkan huruf vocal yaitu A I U E O. Tidak gampang buat saya dalam mengajar mereka dan butuh kesabaran, karena harus berulang kali membacakan abjad tersebut sampai mereka mengingat. Setelah itu aku mengenalkan huruf lengkap yang sebanyak 26 huruf dari a-z.

Pemberantasan Buta Aksara Di Kotte


Lucu sekali saat mengajari mereka huruf. Banyak tawa dan canda di gurat muka mereka karena belum bisa mengingat huruf. Perlu terus menerus mengulang dan mengingatkan huruf kepada mereka.
Ada salah satu dari mereka yang berkata kepada ku “pa saber ghi mon ngajeri. Tak lem engak polannah. Jhek gigiri mon tak taoh” (sambil tertawa). Aku pun menjawab “enggi mbah.. manabi kaule tak saber ampon agigiren kauleh dheri ghellek”.
Hari kedua aku mendapatkan 3 siswa lagi. Tidak banyak siswa yang aku ajari. Karena mereka merasa malu dan berfikir bahwa sudah tidak perlu lagi untuk belajar sebab sudah tua dan tidak perlu lagi untuk belajar. Selain itu mereka juga memiliki kesibukan untuk mempersiapkan makanan buka puasa untuk keluarganya di rumah. Maka dari itu aku mensiasati yang awalnya jam 15.00 di ganti jam 14.00.
Hari selanjutnya aku memperkenalkan kepada siswa ku pengabungan huruf antara huruf vocal dan huruh konsonan. “c a ca c i ci c u cu c e ce c o co” dan seterusnya. Di sela mengajar ada yang berbicara pada ku dari salah satu siswa ku, “kaule angartian engaknah nekah bu. Mon tongsettong engaknah be’rik tak ngarteh”. Dan aku menjawab “oow enggi eajeraghiyeh engaknah nekah beih. Alhamdulilah manabi ampon emmot melana ghun langkong sakonik. Aku membesarkan hati mereka agar mereka memiliki semangat yang tinggi untuk mau belajar sampai mereka bisa membaca dan menulis. Alhamdulillahirobbil ‘alamin. Selanjutnya aku memperkenalkan beberapa kata yang dirangkai dari huruf, merangkai kalimat dari kata dan menulis kata.
Aku bersyukur mereka mau menerima ku dan menerima dengan apa yang aku ajarkan kepada mereka. Ini merupakan pengalaman yang tidak pernah aku lupakan selama KKN ini. Karena baru kali ini aku mengajar yang rata-rata siswa ku sudah tidak muda lagi, bahkan sudah lanjut usia. Ini pengalaman ku, apa pengalaman mu????

Medan Madura (Medan: Area) Oleh : Lauren

Sosialisasi buta aksara itulah salah satu dari sekian program kerja KKN kelompok 33 UTM. Program yang satu ini saya mengira awalnya itu menyampaikan materi layaknya sperti di bangku sekolah. Lach, ternyata lebih dari itu saya mempunyai tugas tambahan selain mengajarkan materi tentang pengenalan huruf abjad (a-z), bagaimana  membacanya, juga saya harus sabar dan lebih-lebihnya lagi saya mesti tau ngomong Madura. Kenapa? Dikarenakan anak didik saya bukanlah anak dibawah umur atau sesusia dengan saya, melainkan ibu-ibu dan bahkan sudah tua.
Ketika mengajar  yang seharusnya mereka mengikuti apa yang disampaikan oleh saya, nah yang ada malah mereka yang mesti saya ikuti, apa maunya mereka. Oklah tidak masalah, yang penting mereka kerasan tetap mau hadir dan lebih-lebihnya bisa mengertilah apa itu abjad, bagaimana bacanya dan bisa membedakan vocal dan konsonan, walaupun kadang (haha..sering) saya tidak mengerti mereka bicara apa (maklum bahasa Madura engkok tak ngerteh gitu loch). Tapi biar gimana pun saya sangat senang dan merasa ada pengalaman baru yang sebelumnya belum pernah saya alami. Nah ketika KKN inilah pengalaman menarik dan berkesan itu saya alami. Hal yang membuat saya ketika mereka dengan antusiasnya mengikuti  sosialisasi buta aksara itu. Saya melihat dalam tatapan mereka itu masih ada kemauan dan semangat yang tinggi untuk belajar, apalagi diusia mereka yang tidak lagi muda seperti saya. Terkadang saya merasa sedih melihat mereka. Mereka-mereka itu sebenarnya ingin sekali belajar tapi orang-orang yang mau mengajar mereka itu yang tidak ada, sehingga mereka setiap harinya hanya bekerja, makan, istirahat, besoknya lagi bekerja, makan, istirahat, dan seterusnya begitu.
Jadi dengan adanya program mengajar buta aksara ini, mereka merasa senang dan masih ingin terus belajar. Tetapi bersyukur selama melaksanakan program pemberantasan buta aksara ini saya merasa mereka tidak sia-sia sudah mengikutinya. Setidaknya mereka sudah tau abjad (a-z) dan membaca dan menulis namanya dan lebih dari itu bahkan mereka sudah bisa membaca rangkaian dari abjad jadi kata serta kalimat. Ada satu hal lagi yang berkesan ketika mengajar mereka  membaca, misalnya ketika saya meminta mereka membaca c” dan a” jadi cu”. Saat itu saya meminta satu dari mereka untuk mengulanginya, coba ibu Marita yang membaca ya, c” dan a” jadi apa bu..? Dengan semangatnya beliau membaca cu..”. hehe.. bukan bu c” dan a” jadi ca”.  Oo engghi kaula kaloppaeh nak ( Oo..saya lupa nak). Demikian saya mengulanginya dan sampai akhirnya mereka pun bisa.
Itulah yang membuat saya bangga dan merasa senang sekali ketika diusia mereka yang sudah bukan saatnya lagi untuk belajar menulis atau membaca, tapi mereka berhasil melakukan itu. Pengalaman ini akan jadi kenangan yang tidak terlupakan selama hidup saya.